BOGOR — Ancaman kekeringan pada musim kemarau 2026 mulai diantisipasi sejak dini oleh Pemerintah Kabupaten Bogor. Salah satu langkah konkret yang diambil adalah menggandeng TNI Angkatan Darat untuk menangani persoalan sampah yang selama ini menjadi biang kerok tersumbatnya aliran sungai.
Penumpukan sampah di sungai dan saluran irigasi bukan hanya soal estetika. Di Kabupaten Bogor, sampah yang tidak terkelola dengan baik kerap menyumbat aliran air ke bendungan dan waduk. Akibatnya, saat musim kemarau tiba, distribusi air ke sawah dan pemukiman warga terganggu.
Sinergi antara Pemkab Bogor dan TNI AD ini difokuskan pada pembersihan sampah di titik-titik kritis DAS. Dengan sungai yang bersih, kapasitas tampung air saat musim hujan bisa maksimal, dan cadangan air untuk musim kemarau pun lebih terjamin.
Dalam beberapa pekan terakhir, personel TNI dari Kodim setempat bersama petugas Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Bogor sudah mulai turun ke lapangan. Mereka membersihkan tumpukan sampah di sejumlah sungai yang melintasi wilayah perkotaan dan pedesaan.
Pembersihan tidak hanya dilakukan secara manual. Alat berat juga dikerahkan untuk mengangkat sampah-sampah besar yang sudah mengendap di dasar sungai. Langkah ini dinilai lebih efektif ketimbang hanya mengandalkan patroli rutin.
Bagi petani di Kecamatan Cibinong dan sekitarnya, kerja sama ini memberi harapan. Mereka selama ini kesulitan mendapat air irigasi saat kemarau karena saluran tersumbat sampah dari pemukiman. Begitu pula warga di perumahan yang mengandalkan sumur dangkal—debit air mereka menurun drastis saat kemarau panjang.
Pemkab Bogor menargetkan, dengan penanganan sampah yang lebih masif, ketersediaan air baku untuk kebutuhan rumah tangga dan pertanian bisa bertahan lebih lama. Program ini juga akan diperluas ke desa-desa lain yang rawan kekeringan.
Selain aksi fisik, Pemkab Bogor dan TNI AD juga menggencarkan sosialisasi ke warga. Mereka mendorong pengelolaan sampah dari rumah tangga, termasuk pemilahan sampah organik dan non-organik. Sebab, tanpa partisipasi warga, upaya pembersihan sungai hanya akan menjadi siklus tahunan tanpa akhir.
Kerja sama ini diharapkan menjadi model penanganan sampah yang bisa diterapkan di daerah lain di Jawa Barat. Dengan sinergi antara pemerintah dan TNI, persoalan sampah yang selama ini terkesan sepele bisa menjadi kunci utama dalam mitigasi bencana kekeringan.