JAWA BARAT — Pembangunan PLTMG Sumbawa 2 merupakan bagian dari upaya pemerintah memperkuat sistem kelistrikan di wilayah timur Indonesia. Dengan tambahan 30 MW, total kapasitas pembangkit di Pulau Sumbawa kini mencapai angka yang lebih memadai untuk menekan defisit pasokan listrik yang sempat terjadi dalam beberapa tahun terakhir.
PLTMG Sumbawa 2 berlokasi di Labuhan Badas, kawasan yang dinilai strategis karena dekat dengan jaringan transmisi utama. Proyek ini dikerjakan oleh Adhi Karya selaku kontraktor utama, dengan target waktu penyelesaian yang ketat mengingat tingginya permintaan listrik dari sektor industri pengolahan dan pariwisata di sekitar Pulau Sumbawa.
Sebelumnya, beban puncak listrik di wilayah ini kerap mendekati batas maksimum kapasitas pembangkit yang ada. Kondisi itu memicu pemadaman bergilir, terutama saat musim kemarau ketika pasokan air untuk PLTA menurun. Dengan beroperasinya PLTMG berbahan bakar gas, risiko tersebut bisa ditekan secara signifikan.
Tambahan pasokan 30 MW dari PLTMG Sumbawa 2 diproyeksikan mampu melayani kebutuhan listrik puluhan ribu rumah tangga dan sejumlah kawasan industri kecil-menengah di Kabupaten Sumbawa dan sekitarnya. Bagi pelaku usaha, kepastian pasokan listrik menjadi faktor krusial untuk menjaga produktivitas, terutama di sektor pengolahan hasil pertanian dan perikanan yang menjadi andalan daerah.
Manajemen Adhi Karya menyatakan bahwa pembangunan pembangkit ini juga menyerap tenaga kerja lokal selama masa konstruksi. Selain itu, penggunaan mesin gas dinilai lebih ramah lingkungan dibandingkan pembangkit diesel yang selama ini menjadi andalan di daerah terpencil.
Pemerintah melalui PT PLN (Persero) terus mendorong pembangunan pembangkit listrik berbasis gas dan energi baru terbarukan di Nusa Tenggara Barat untuk mengurangi ketergantungan pada BBM. PLTMG Sumbawa 2 menjadi salah satu proyek strategis dalam bauran energi nasional, sejalan dengan target rasio elektrifikasi 100 persen di seluruh Indonesia.
Ke depan, Adhi Karya masih memiliki sejumlah proyek infrastruktur kelistrikan lain di kawasan timur Indonesia. Langkah ini sekaligus memperkuat posisi perseroan sebagai kontraktor BUMN yang aktif dalam proyek ketenagalistrikan nasional.