BOGOR — Puluhan warga RW 12 Kelurahan Kebon Pedes, Kecamatan Tanah Sareal, sejak lama menjadikan keluhan mati air sebagai rutinitas tahunan. Namun, pekan lalu keluhan itu berujung pada diskusi langsung dengan jajaran direksi Perumda Tirta Pakuan yang mendatangi lokasi untuk melihat kondisi sesungguhnya di lapangan.
Dalam pertemuan itu, warga menyampaikan bahwa air dari Perumda seringkali tidak mengalir selama berhari-hari, terutama di musim kemarau. Beberapa rumah bahkan mengaku sudah bertahun-tahun tidak menikmati aliran air bersih dari PDAM, meskipun telah membayar tagihan rutin setiap bulan.
Direksi Perumda Tirta Pakuan yang hadir langsung meninjau sejumlah titik yang dicurigai sebagai lokasi kebocoran. Pipa-pipa distribusi di kawasan itu, menurut pengakuan petugas, sudah berusia tua dan rawan bocor.
"Kami melihat langsung titik-titik yang dikeluhkan. Tim teknis sudah mulai melakukan pemeriksaan untuk memastikan penyebab pastinya," kata perwakilan direksi dalam diskusi tersebut. Ia menambahkan bahwa perbaikan akan segera dilakukan setelah hasil pemeriksaan rampung.
Selain kebocoran, pihak Perumda juga mengungkap dugaan lain: debit air yang masuk ke wilayah Kebon Pedes tidak mencukupi untuk melayani seluruh pelanggan. Hal ini diperparah dengan pertambahan jumlah sambungan rumah tangga yang tidak diimbangi perluasan kapasitas produksi.
Warga pun mempertanyakan mengapa persoalan ini tidak segera diatasi sejak tahun-tahun sebelumnya. "Setiap tahun kami lapor, setiap tahun jawabannya sedang diperbaiki. Tapi kenyataannya, air tetap tidak mengalir," ujar seorang ketua RT setempat dalam forum diskusi.
Tidak hanya meminta perbaikan teknis, warga mendesak Perumda Tirta Pakuan untuk memberikan jadwal yang pasti kapan air kembali mengalir normal. Mereka mengaku lelah dengan janji yang tidak pernah terealisasi.
Pihak Perumda berjanji akan menindaklanjuti temuan di lapangan dalam waktu dekat. "Kami akan evaluasi dan perbaiki secara bertahap. Prioritas kami adalah titik-titik yang paling parah," tegas perwakilan direksi.
Diskusi itu setidaknya menjadi titik terang bagi warga RW 12 yang selama ini merasa suaranya tidak didengar. Namun, mereka tetap menunggu bukti nyata di lapangan — bukan sekadar janji di atas kertas.