Rupiah Terjerembap ke Rp17.844 per Dolar AS, Konflik Timur Tengah dan Dividen Jadi Beban

Penulis: Zaki Mubarak  •  Senin, 01 Juni 2026 | 10:28:51 WIB
Rupiah melemah ke Rp17.844 per dolar AS seiring ketegangan geopolitik Timur Tengah.

JAWA BARAT — Mata uang Garuda kompak melemah bersama mayoritas mata uang Asia lainnya. Yen Jepang turun 0,14 persen, baht Thailand melemah 0,17 persen, dan won Korea Selatan menjadi yang terburuk dengan koreksi 0,71 persen. Dolar Singapura dan yuan China juga tak luput dari tekanan, masing-masing melemah 0,11 persen dan 0,02 persen.

Tekanan serupa juga melanda mata uang negara maju. Euro Eropa melemah 0,12 persen, poundsterling Inggris turun tipis 0,01 persen, dan franc Swiss terkoreksi 0,27 persen. Dolar Australia dan dolar Kanada pun tak mampu bertahan di zona hijau.

Dua Sumber Tekanan: Geopolitik dan Arus Valas Musiman

Analis Mata Uang Doo Financial Futures, Lukman Leong, menilai pelemahan rupiah saat ini merupakan fase konsolidasi. Dua faktor utama menjadi pemicunya: pertama, ketidakpastian perundingan AS-Iran yang masih alot; kedua, antisipasi data ekonomi domestik yang akan dirilis besok, yakni inflasi dan neraca perdagangan.

"Investor masih wait and see perkembangan kesepakatan AS-Iran yang masih limbung. Selain itu investor juga mengantisipasi data penting domestik besok yaitu inflasi dan perdagangan. Harga minyak yang sudah menurun bisa mendukung rupiah," ujar Lukman.

Dari sisi domestik, Bank Indonesia (BI) mencatat tekanan tambahan berasal dari meningkatnya kebutuhan valuta asing (valas) secara musiman. Kepala Departemen Komunikasi BI Ramdan Denny Prakoso menyebut dua kebutuhan utama: pembayaran utang luar negeri (ULN) dan repatriasi dividen perusahaan.

"Tekanan terhadap nilai tukar Rupiah masih dipengaruhi oleh berlanjutnya ketidakpastian global akibat perkembangan konflik di Timur Tengah," kata Ramdan dalam pernyataan resmi Jumat (29/5) lalu.

BI Siap Intervensi, Pasar Tunggu Data Inflasi

Lukman memperkirakan rupiah akan bergerak dalam rentang Rp17.750 per dolar AS hingga Rp17.800 per dolar AS pada hari ini. Ia melihat harga minyak yang mulai menurun berpotensi menjadi katalis positif bagi nilai tukar rupiah ke depan.

Bank Indonesia menegaskan komitmennya untuk terus menstabilkan kurs. Ramdan menyatakan BI hadir di pasar melalui berbagai instrumen intervensi secara around the world, around the clock. Pasar kini menunggu data inflasi dan neraca perdagangan besok sebagai sinyal arah kebijakan moneter selanjutnya.

Reporter: Zaki Mubarak
Sumber: cnnindonesia.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top