BANDUNG — Bukan hanya persoalan estetika, gunungan sampah yang tak terangkut di beberapa wilayah Bandung Raya mulai menimbulkan keresahan warga. Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi turun tangan langsung dan menetapkan target penyelesaian yang ketat: tiga hari.
Berdasarkan pantauan awal, setidaknya ada belasan lokasi yang masuk kategori darurat sampah. Mulai dari pasar tradisional, pemukiman padat penduduk, hingga bantaran sungai. Dedi memerintahkan dinas terkait untuk bergerak cepat tanpa menunggu prosedur birokrasi yang panjang.
"Saya minta dalam tiga hari ini semua selesai. Tidak ada alasan," kata Dedi dalam keterangan yang diterima redaksi.
Pemprov Jabar tidak hanya mengandalkan armada truk sampah biasa. Rencananya, puluhan dump truk dari berbagai dinas dan BUMD akan dikerahkan. Dinas Lingkungan Hidup juga diminta berkoordinasi dengan TNI dan Polri untuk mempercepat evakuasi sampah di titik-titik yang sulit dijangkau.
Di sisi lain, warga diimbau untuk tidak membuang sampah sembarangan selama proses pembersihan berlangsung. Satpol PP akan diterjunkan untuk mengawasi titik-titik rawan yang kerap dijadikan lokasi pembuangan ilegal.
Persoalan ini sebenarnya bukan hal baru. Kapasitas Tempat Pembuangan Akhir (TPA) regional yang terbatas dan armada pengangkut yang kurang menjadi faktor klasik. Namun, lonjakan volume sampah pasca libur panjang diduga menjadi pemicu utama memburuknya kondisi dalam sepekan terakhir.
Dedi mengakui bahwa sistem pengelolaan sampah di Bandung Raya perlu dirombak total. Target tiga hari ini, menurutnya, hanya solusi jangka pendek untuk mengatasi darurat. Ke depan, ia akan mendorong pembangunan TPA terpadu dan program pengolahan sampah berbasis komunitas.
Gubernur tidak main-main. Ia mengancam akan mengevaluasi kinerja kepala dinas dan camat di wilayah yang masih ditemukan tumpukan sampah setelah batas waktu. "Jangan coba-coba main-main dengan kebersihan. Ini menyangkut kesehatan dan kenyamanan warga," tegasnya.
Langkah tegas ini mendapat respons positif dari sejumlah komunitas peduli lingkungan di Bandung. Mereka berharap operasi bersih-bersih ini tidak hanya menjadi seremoni, tetapi diikuti dengan kebijakan berkelanjutan agar Bandung Raya tak lagi dikepung sampah.