JAWA BARAT — Di tengah derasnya arus informasi digital dan keterbukaan publik, Pelindo menyadari bahwa citra perusahaan tidak bisa lagi dijaga dengan cara-cara lama. Achmad Muchtasyar menekankan bahwa humas kini dituntut untuk hadir dengan komunikasi yang cepat, akurat, dan adaptif.
“Peningkatan kompetensi dan penguatan kapasitas insan humas menjadi bagian penting dalam mendukung transformasi Pelindo,” ujar Achmad dalam forum yang digelar di Makassar, Kamis (21/5). Menurutnya, tanpa humas yang sigap, reputasi perusahaan bisa tergerus dalam hitungan menit di media sosial.
Forum ini menjadi ajang konsolidasi antarregional dan antarsubholding. Executive Director 4 Pelindo Regional 4, Abdul Azis, menyebut kegiatan ini sebagai ruang berbagi strategi komunikasi yang selama ini mungkin berjalan sendiri-sendiri di tiap wilayah.
“Kami berharap seluruh peserta mampu mengimplementasikan ilmu yang diperoleh untuk menghadirkan komunikasi perusahaan yang lebih terukur, kredibel, dan memberikan dampak positif bagi citra Pelindo,” kata Abdul Azis. Kehadiran humas dari regional lain sebagai observer menunjukkan komitmen bersama membangun standar komunikasi yang profesional.
Dalam praktiknya, humas yang adaptif bukan hanya soal rilis berita atau menjawab pertanyaan wartawan. Di Pelindo, fungsi ini langsung bersinggungan dengan keberlangsungan bisnis. Ketika isu negatif muncul di pelabuhan, humas harus sigap mengklarifikasi agar kepercayaan mitra bisnis dan pengguna jasa tidak luntur.
Abdul Azis menambahkan, forum ini juga menjadi wadah untuk menyelaraskan strategi komunikasi dengan transformasi bisnis yang sedang berjalan di Pelindo. Mulai dari digitalisasi layanan kepelabuhanan hingga ekspansi bisnis logistik, semuanya perlu dikomunikasikan secara efektif ke publik.
Forum Kehumasan ini menjadi bukti bahwa Pelindo tidak setengah hati membangun komunikasi korporasi. Di era di mana informasi bisa menyebar lebih cepat dari kapal berlabuh, humas yang adaptif adalah garda terdepan menjaga nama baik BUMN pelabuhan itu.