DEPOK — Langkah ini diambil setelah volume sampah harian kota mencapai angka yang mengkhawatirkan. Dengan mewajibkan pemilahan dari sumber, polisi diharapkan menjadi contoh nyata bagi warga dalam mengurangi beban TPA.
Setiap personel, dari perwira hingga bintara, diminta memisahkan sampah organik dan anorganik di rumah dinas maupun tempat tinggal pribadi. Sampah organik bisa diolah menjadi kompos, sementara anorganik dikumpulkan untuk didaur ulang.
Kebijakan ini tidak hanya berlaku saat personel berada di kantor. Mereka juga diwajibkan menerapkan pola yang sama di lingkungan RT/RW masing-masing. Hal ini dianggap strategis karena polisi tersebar di seluruh kelurahan di Depok.
Pemkot Depok selama ini kesulitan mengubah kebiasaan warga dalam membuang sampah. Angka partisipasi pemilahan mandiri masih rendah. Dengan melibatkan aparat, pemerintah berharap ada efek domino.
“Personel polisi punya jaringan hingga ke tingkat RW. Mereka bisa menjadi agen perubahan yang lebih efektif,” ujar salah satu pejabat di lingkungan Polres Depok. Harapannya, warga akan mengikuti karena melihat langsung contoh dari aparat keamanan.
Program ini juga menjadi bagian dari evaluasi kinerja. Personel yang tidak menjalankan kewajiban pemilahan sampah akan mendapat teguran. Namun, pendekatan yang digunakan lebih ke edukasi daripada hukuman.
Polres Depok telah menyiapkan tempat sampah terpisah di setiap pos dan markas. Sosialisasi teknis pemilahan juga sudah diberikan kepada seluruh anggota. Langkah ini dinilai lebih konkret dibanding imbauan biasa.
Meski niatnya baik, kebijakan ini menghadapi kendala klasik: keterbatasan tempat pembuangan sampah terpilah di tingkat kota. Sampah anorganik yang sudah dipisahkan belum tentu langsung diangkut oleh petugas kebersihan.
Pemkot Depok berjanji akan menyesuaikan sistem angkutan sampah. Saat ini, truk sampah masih mencampur semua jenis limbah. Jika tidak ada perubahan di hilir, pemilahan di hulu bisa sia-sia.
Program ini menjadi ujian nyata apakah kolaborasi antara kepolisian dan pemerintah daerah bisa mengurai persoalan sampah yang sudah menahun. Warga Depok kini menunggu aksi nyata di lapangan, bukan sekadar instruksi di atas kertas.